Berakhirnya Kisah Sebuah Stasiun Kereta

Harian KOMPAS, Jumat, 26 September 2008 | 03:00 WIB
Jendela-jendela besar telah dipalang. Demikian juga dengan pintu utama. Sebuah gembok besar berkarat mengunci rapat pintu kayu tersebut. Tulisan bercat biru ”Anjer Kidul” pada dinding stasiun tua itu termakan usia. Sarang laba- laba bertebaran di setiap sudut bangunan.
Jika tidak mendatanginya dengan dekat, berputar ke bagian belakang—yang sebenarnya adalah bagian depan bangunan berukuran lebih kurang 40 meter persegi itu—sulit bagi seseorang untuk mengenali bahwa bangunan itu adalah sebuah stasiun kereta api.
Diperkirakan dibangun awal tahun 1900, Stasiun Anjer Kidul di Cikoneng, Banten, saat ini terimpit oleh rumah-rumah penduduk. Ruang utama stasiun saat ini digunakan sebagai tempat budidaya walet. Meski demikian, bangunan pendukung, seperti rumah dinas kepala stasiun dan wakilnya serta barak tempat tinggal pegawai, masih utuh. Saat ini bangunan itu ditempati oleh ahli waris mereka.
Sekitar 100 meter di sebelah barat stasiun itu terdapat kolam pelangsir kereta. Namun, sayang, kondisinya mengenaskan. Selain dipakai sebagai tempat sampah, di dalam kolam tersebut tumbuh sebatang pohon kelapa. Selain itu, rel putar yang digunakan untuk membalik arah lokomotif pun telah raib. ”Dicuri,” kata A Kadir, warga Cikoneng.
Yang tertinggal adalah poros besi yang tertanam pada fondasi beton berdiameter lebih kurang 1,5 meter. Tak jauh dari kolam pelangsir itu terdapat empat makam tua yang di dalamnya bersemayam jenazah para pegawai kereta api yang mengabdi di stasiun tersebut.
Telah puluhan tahun stasiun kereta api tidak lagi dioperasikan. ”Dulu, dari sini dibawa hasil bumi, seperti padi dan kopi, ke Rangkasbitung dan juga Jakarta,” kata Kadir.
Kilas sejarah
Rel kereta api yang menghubungkan Anyer Kidul-Rangkasbitung dibuat awal tahun 1900. Rel membentang sepanjang 54 kilometer menyusuri pantai barat dari Anyer-Labuan, kemudian berbelok ke timur menuju Saketi-Rangkasbitung.
Dahulu kereta api Anyer- Rangkasbitung dioperasikan sebagai angkutan penumpang. Namun, warga di sana juga memanfaatkan kereta api untuk mengangkut hasil bumi, seperti beras dan pisang.
Sejak dioperasikan tahun 1906, kereta api di jalur ini melayani perjalanan hingga delapan kali sehari. Namun, ketika jalan raya yang menghubungkan Labuan, Anyer, Cilegon, hingga Serang diperbaiki dan kualitasnya ditingkatkan, berangsur-angsur tidak ada lagi orang yang menggunakan jasa kereta api.
Pertumbuhan angkutan jalan raya di sana sangat pesat dan warga lebih memilih menumpang mobil angkutan umum untuk bepergian. Sejak saat itu jadwal perjalanan kereta api menurun hingga dua kali sehari. ”Waktu saya kecil, paling ada kereta dua kali sehari. Pagi-pagi sama sore hari,” kata Samsunah (47), warga Cikoneng.
PT Kereta Api Indonesia (KAI) memutuskan untuk menutup jalur Anyer-Rangkasbitung tahun 1981. Kepala Humas PT KAI Ahmad Sudjadi menuturkan, jalur tersebut ditutup karena kekurangan peminat, padahal biaya operasional relatif mahal ketimbang pendapatan dari penjualan tiket.
Hingga ditutup tahun 1981, kereta api yang dioperasikan untuk jalur Anyer-Rangkasbitung masih berwujud kereta kayu peninggalan Belanda. Selain itu, rangkaian kereta api hanya terdiri atas empat gerbong. ”Apalagi, jadwal kedatangan dan keberangkatan kereta api dari Stasiun Anjer Kidul hanya satu kali,” kata Iyus, warga Cikoneng.
Revitalisasi
Pengamat perkeretaapian nasional Taufik Hidayat mengatakan, sejak masa pemerintahan Belanda banyak stasiun kereta api berhenti beroperasi. Salah satu penyebabnya adalah berkembangnya moda angkutan darat seperti truk. Truk dinilai jauh lebih fleksibel dan mampu mengantarkan komoditas dagang dan manusia dari pintu ke pintu. Kereta api hanya mampu melayani perpindahan dari stasiun ke stasiun.
Selain itu, alasan lain berhenti beroperasinya kereta api adalah peperangan yang menempatkan stasiun sebagai salah satu sasaran utama. Namun, kemungkinan Stasiun Anjer Kidul berhenti beroperasi karena kalah bersaing dengan moda angkutan darat di Banten. Apalagi, komoditas alam tidak banyak lagi. Seiring perkembangan industri pariwisata di Anyer, sawah, kebun, dan hutan pun lenyap berganti dengan vila, rumah, dan sarana penunjang lainnya.
Kini, ketika harga bahan bakar minyak melonjak, hawa segar tampak mulai berpihak kepada pengelola. Warga masyarakat kembali melirik kereta api sebagai moda transportasi yang mudah dan aman. Namun, untuk menghidupkan lagi berbagai stasiun yang telah berhenti beroperasi bukanlah perkara mudah dan murah.
Sebenarnya, kereta api bisa dijadikan sebagai moda transportasi penumpang. Namun, menurut Sudjadi, sulit untuk menghidupkan kembali kereta api jalur Anyer-Rangkasbitung. ”Kemungkinan untuk dibuka lagi memang ada, tetapi jalur itu tidak termasuk dalam prioritas kami karena tingkat kesibukannya masih rendah,” ujar Sudjadi.
Taufik berpendapat, jika KAI hendak merevitalisasi jalur-jalur lama, lebih baik jalur yang masih ada yang diprioritaskan. Dana sebesar Rp 19 triliun yang dapat diserap hingga tahun 2010 dapat dialokasikan untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan berkereta api. Apalagi, selama kurun waktu tahun 2007 tercatat sekitar 160 juta warga bepergian dengan menggunakan moda tersebut. ”Saat ini jalur-jalur pendek amat diminati, murah, dan memberi banyak nilai tambah bagi pedagang kecil,” kata Taufik, yang juga Direktur Eksekutif Indonesia Railway Watch.
Hal itu tentu menjadi kesempatan bagi perkeretaapian nasional bangkit kembali. Mungkin saja Stasiun Anjer Kidul tak lagi turut serta dalam kancah itu. Namun, kisah kematiannya dapat saja menjadi inspirasi untuk membangkitkan kembali industri angkutan kereta api yang murah dan sarat pelayanan itu.

(B Josie Susilo Hardianto/ Anita Yossihara)

No comments:

Post a Comment

 
Home | Gallery | Tutorials | Freebies | About Us | Contact Us

Copyright © 2009 Train Collection |Designed by Templatemo |Converted to blogger by BloggerThemes.Net

Usage Rights

DesignBlog BloggerTheme comes under a Creative Commons License.This template is free of charge to create a personal blog.You can make changes to the templates to suit your needs.But You must keep the footer links Intact.